Jumat, 30 Desember 2016

Mantan Dandim Lamongan Penganiaya Ajudan Hari Ini Divonis

KOMPAS.com - Sidang putusan perkara dugaan penganiayaan ajudan, dengan terdakwa mantan Komandan Kodim 0812 Lamongan, Letkol Ade Rizal Muharram, akan digelar Rabu siang (28/12/2016) di Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya.
Jelang putusan, sejumlah kerabat, keluarga, dan rekan seangkatan korban, yakni Kopral Kepala (Kopka) Andi Pria Dwi Harsono, terpantau sudah berdatangan di lokasi sidang.
Turut hadir juga, istri korban, Ika Sepdina, dan putrinya, Andina Nata. Mereka berharap, terdakwa dihukum yang seberat-beratnya sesuai dengan apa yang dilakukan kepada korban.
"Paling tidak dipecat lah, hukuman yang lain terserah," kata Ika Sepdina, istei korban.
Pertengahan Desember lalu, Letkol Ade Rizal Muharram dijerat pasal berlapis yakni pasal 351 dan pasal 338 KUHP karena melakukan penganiayaan hingga korbannya meninggal dunia. Dia dituntut hukuman lima tahun dan hukuman tambahan berupa PTDH.

Mantan Dandim Lamongan Dipecat karena Membunuh Ajudannya Sendiri


Mantan Dandim Lamongan Dipecat karena Membunuh Ajudannya Sendiri

Surabaya KOMPAS.com
 — Letkol Ade Rizal Muharram, mantan Komandan Kodim 0812 Lamongan, dipecat dari kesatuannya di Angkatan Darat (AD).
Selain dipecat, perwira menengah AD itu juga dihukum tiga tahun penjara.
Vonis hukuman penjara itu lebih ringan dari tuntutan, yakni penjara lima tahun dan hukuman tambahan pemberhentian dengan tidak hormat (PTDH). 
"Divonis tiga tahun penjara dan pemecatan dari kesatuan TNI Angkatan Darat," kata ketua majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi III Surabaya, Sugeng Sutrisno, Selasa (28/12/2016), saat membacakan vonis perkara.

Bunuh Ajudannya, Dandim Lamongan Dipecat dan Dihukum 3 Tahun Penjara



Kopka Andi Digantung Hidup-hidup Borgol masih ditangan

TEMPO.CO, Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi III-12 Surabaya menghukum Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0812 Lamongan Letnan Kolonel Ade Rizal Muharam dengan penjara 3 tahun. Ade dinyatakan terbukti menganiaya yang menyebabkan kematian ajudannya, Kopral Kepala Andi Pria Harsono. Hakim juga memecat terdakwa dengan tidak hormat dari dinas militer angkatan darat.

"Dengan secara meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja merampas nyawa orang lain," kata ketua majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi III-12 Surabaya, Kolonel CHK Sugeng Sutrisna, Rabu, 28 Desember 2016.

Vonis itu lebih ringan daripada tuntutan Oditur Militer yang menuntut terdakwa dengan hukuman 5 tahun penjara. Ade Rizal Muharam dinyatakan jaksa terbukti menganiaya Andi Pria Dwi Harsono, yang ditudingnya melakukan pelecehan seksual terhadap GA, 4 tahun, anak bungsunya.

Aniaya Ajudan Hingga Tewas, Mantan Dandim Lamongan Dipecat



Aniaya Ajudan Hingga Tewas, Mantan Dandim Lamongan Dipecat

Surabaya (wartakediri.com) - Letkol Ade Rizal Muharram, mantan Komandan Kodim 0812 Lamongan divonis 3 tahun penjara dan dipecat dari kesatuannya Angkatan Darat.

Keputusan itu dijatuhkan oleh Majelis hakim Pengadilan Militer Tinggi III Sugeng Sutrisno

Vonis hukuman penjara itu lebih ringan dari tuntutan yakni penjara lima tahun dan hukuman tambahan Pemberhentian Dengan Tidak Hormat (PTDH).

"Divonis tiga tahun penjara dan pemecatan dari kesatuan TNI Angkatan Darat," kata hakim Sugeng Sutrisno, Selasa (28/12/2016).

Sabtu, 03 Desember 2016

Kodim Kediri Gelar Nusantara bersatu

(Kediri) Stadion Brawijaya Kediri menjadi saksi bisu perhelatan "Gelar Nusantara Bersatu", uang dihadiri sekitar 17.000 orang dari 343 desa yang tersebar di 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Kediri,  dan 46 kelurahan yang tersebar di 3 kecamatan yang ada di Kota Kediri.  Gelar nusantara bersatu ini juga dihadiri anggota Banser, FKPPI,  Pramuka, tokoh lintas agama,  kelompok tani, perangkat desa,  para pelajar dan mahasiswa,  serta anggota LVRI. Ditenda kehormatan,  juga terlihat Dandim Kediri,  Letkol Inf Purnomosidi,  Kapolresta Kediri,  AKBP wibowo, Wakil Walikota Kediri,  Lilik Muhibah,  dan Ketua DPRD Kota Kediri, Kholifi Yunon, rabu (30/11/2016)

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kediri, Munasir Huda menegaskan,  ormas-ormas yang secara jelas menolak azas Pancasila,  harus dibubarkan oleh Pemerintah,  karena dianggap bertentangan dengan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.  Khusus ormas-ormas di Kota dan Kabupaten Kediri yang berindikasi tidak sesuai dengan Pancasila harus keluar dari wilayah Kediri, karena dapat memicu perselisihan maupun perpecahan antar warga yang berlatarbelakang beragam. Beliau juga menyikapi aksi demo 411 yang sudah berlangsung dan aksi demo 212 yang akan berlangsung,  sebagai tindakan yang mengintervensi Pemerintah dan dapat membuat menimbulkan perselisihan yang berlatarbelakang SARA.